************************************************

Skripsi Administrasi Bisnis
Skripsi Administrasi Negara  
Skripsi Administrasi Niaga
Skripsi Administrasi Pertanahan
Skripsi Administrasi Publik 
Skripsi Agama Islam
Skripsi Akuntansi
Skripsi Aqidah Filsafat
Skripsi Bahasa Inggris
 Skripsi Bahasa Sastra Inggris
 Skripsi Biologi
Skripsi Desain dan Komunikasi Visual
Skripsi Ekonomi  
Skripsi Ekonomi Islam
  Skripsi Ekonomi Manajemen
 Skripsi Ekonomi Pembangunan
Skripsi Elektro
Skripsi Farmasi  
Skripsi Fisika
Skripsi Geo Teknik
Skripsi Pendidikan Agama Islam  
Skripsi Pendidikan Bahasa Arab
Skripsi Pendidikan Bahasa Indonesia
Skripsi Pendidikan Bahasa Inggris
Skripsi Pendidikan Biologi  
Skripsi Pendidikan Ekonomi
Skripsi Pendidikan Elektro 
Skripsi Pendidikan Kimia
 Skripsi Pendidikan Matematika
Skripsi Pendidikan Olahraga
Skripsi Perbankan
Skripsi Perbankan Syariah
Skripsi Perkapalan
Skripsi Pertambangan
Skripsi PPKN
Skripsi PGKSD PGSD PGMI
Skripsi Teknik Mesin 
Skripsi Teknik Metalurgi
Skripsi Teknik Pertanian
Skripsi Hukum
Skripsi Hukum Perdata
Skripsi Hukum Pidana
Skripsi Hukum Tata Negara
Skripsi Ilmu Hukum
Skripsi Ilmu Keperawatan
Skripsi Ilmu Komunikasi
Skripsi Ilmu Komputer
 Skripsi Informatika
Skripsi Kedokteran 
Skripsi Kehutanan
 Skripsi Keperawatan
Skripsi Kesehatan Masyarakat
  Skripsi Kimia
Skripsi Komputer
Skripsi Komunikasi 
Skripsi Manajemen
Skripsi Manajemen Ekonomi
Skripsi Manajemen Keuangan
Skripsi Manajemen Pemasaran
Skripsi Manajemen SDM
Skripsi Matematika
 Skripsi Olahraga  
Skripsi Psikologi
 Skripsi Sains Kebumian 
Skripsi Sejarah
 Skripsi Sistem Informasi
Skripsi Statistika
Skripsi Sosiologi 
Skripsi Syariah 
Skripsi Tafsir Hadist
  Skripsi Tarbiyah
 Skripsi Tata Negara
Skripsi Tata Boga Tata Busana  
Skripsi Teknik Elektro
Skripsi Teknik Industri
Skripsi Teknik Informatika
Skripsi Teknik Komputer 
Skripsi Teknik Sipil
dan masih banyak lagi yang lainnya....

semua kami rangkum dalam 3 kepingan dvd berkualitas dan jumlah total sementara skripsinya mencapai lebih dari 4.900 buah skripsi (^_^)

========================================================

*koleksi sementara?
Untuk koleksi sementara kami ada sekitar 4.900 lebih. Lho kok sementara? karena begitu kami memperoleh skripsi yang baru dan fresh maka kami akan menambahkannya kedalam koleksi kami sehingga"koleksi skripsi kami akan mengalami penambahan jumlah tanpa pemberitahuan sebelumnya".

==========================================================

BONUS SOFTWARE

**BONUS RAHASIA**

 Ebook rahasia

 kok rahasia? ya karena ebook ini berisi ebook berbahasa indonesia yang tidak beredar luas di internet. Nilai nominal dari ebook ini lebih dari 1juta lho. Tapi di paket koleksi skripsimu akan kami berikan secara gratis..

>> So kami harap jangan disebar luaskan isinya ya <<



========================================================
Pesan sekarang juga! 
 HARGA SEMUANYA hanya 

SUDAH TERMASUK ONGKIR

========================================================






Ayo order sekarang juga sebelum harganya kami naikkan karena skripsinya akan terus bertambah jumlahnya, jadi wajar dong kalo kami menaikkan harganya.

*******************************************************
>>>>> CARA PEMBELIAN <<<<<
*******************************************************

Hanya dengan tiga langkah mudah di bawah ini

Pembelian cepat melalui sms :

1. Sms ke nomor  
0856-5816-8316 / 0823-6613-0680
bbm : 518EC16D


Contoh sms :

"pesan skripsi segala jurusan, Dessy Jl. kebon duren No.18 Lampung + kodepos"


Saya akan membalas sms serta mencatat nama dan alamat anda, infokan nama dan alamat selengkap-lengkapnya


2. Lakukanlah pembayaran ke salah satu rekening saya:
Bank Mandiri
900-00-0868734-6

An DEFRI WICAKSONO S.SI




Bank BRI
2224-01-000296-53-6

An DEFRI WICAKSONO S.SI


3. Setelah transfer, segera infokan kembali dengan sms

Contoh sms :

"Sudah transfer An.Dessy, 120 rb, cepetan dikirim ya skripsinya"


Setelah transfer maka skripsi akan saya kirimkan ke alamat sobat, jadi tinggal nunggu kurir kiriman datang ke rumah saja. Saya menggunakan jasa pengiriman TIKI, POS, dan JNE. No resi juga akan saya kirimkan supaya sobat bisa menunggu dengan tenang dan damai, hehe..


 >>> GARANSI !! <<<
DVD koleksi skripsi ini kami garansi dari kerusakan fisik maupun error. ya walau pun sudah diburn dengan kualitas yang terbaik namun bisa saja terjadi eror/data tidak terbaca atau bahkan kerusakan dalam proses pengiriman. So.. tidak usah khawatir akan data error/rusak karena kami akan kirim dvd yang baru dan tetap gratis ongkos kirim.

### PENUTUP ###
"kami pedagang muslim yang jujur dan mencari rezeki secara halal. Siapapun yang telah transfer maka demi Allah dvd koleksi skripsi segala jurusan ini akan kami kirimkan dan garansi juga akan kami jamin kepastiannya ^_^ "


 * sebahagian bukti pengiriman yang telah kami lakukan

 

 Maaf, kami tidak mempublikasikan testimoni dari pelanggan kami karena kami merahasiakan identitas mereka. Tapi kami yakinkan bahwa siapapun yang telah transfer maka DEMI ALLAH dvd koleksi skripsimu akan kami kirimkan.


SEMOGA SKRIPSI ANDA SUKSES DENGAN NILAI MAKSIMAL
Aamiin..

PERHATIAN !!
1. KENAPA TIDAK ADA TESTIMONI PEMBELI ??
Saya menjaga kerahasiaan privasi dari customer saya
2. APAKAH DVD SKRIPSINYA BENERAN DIKIRIM SETELAH TRASNFER ??
Demi Allah dvd skripsi akan saya kirim setelah sobat transfer dan resi pengiriman akan saya sms kan ke no sobat
3. GARANSI DVD SKRIPSINYA BENERAN ??
Beneran DVD skripsinya saya garansi, saya janji!
KENAPA HAL INI DIBUAT??
Saya mencari rezeki secara halal dan berusaha meyakinkan pembeli bahwa saya pedagang yang jujur ditengah persaingan dunia online yang sedikit kurang sehat
KUNJUNGI BLOG UTAMA KAMI WWW.KOLEKSI-SKRIPSIMU.BLOGSPOT.COM
Tampilkan postingan dengan label Contoh Skripsi Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contoh Skripsi Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Skripsi Ekonomi Pembangunan Studi Komparasi Kinerja Keuangan Antara Bank Asing Dan Bank Swasta Nasional Di Indonesia

Kembali lagi saya akan posting Skripsi Ekonomi Pembangunan Studi Komparasi Kinerja Keuangan Antara Bank Asing Dan Bank Swasta Nasional Di Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Struktur perekonomian Indonesia yang merupakan negara agraris tidak terlepas dari sektor pertanian, dimana hubungan antara sektor pertanian dengan pembangunan nasional pada dasarnya merupakan hubungan yang saling timbal balik. Pembangunan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup
masyarakat.
Pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di Indonesia sampai saat itu. Walaupun Indonesia merupakan negara agraris, namun sebagian besar petaninya termasuk petani kecil. Petani yang termasuk dalam golongan ini biasanya hanya memiliki lahan pertanian yang diperoleh dari usaha taninya tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Banyak petani yang tidak memiliki lahan atau tidak berkuasa lagi atas lahan yang mereka miliki karena dijual atau disewakan. Petani tersebut berusaha menjadi buruh tani atau menyewa lahan petanian milik orang lain atau bekerja di sektor non pertanian (blogspot.com/ 2011/11/peranan-pembangunan-pertanian.di-html/).
Membicarakan pertanian dengan sendirinya kita membicarakan urusan pangan sebagai kebutuhan utama kelangsungan hidup kita dengan melihat hasil sub sektor pertanian sebagai pemasok utama kebutuhan hidup, maka sub sektor pertanian ini sangat strategis kedudukannya dari pada sub sektor lainnya.
Indonesia dengan luas areal tanah pertanian yang begitu dominan, maka strategi  pembangunan ekonomi pada sektor pertanian dan industri pertanian harus menjadi lokomotif pembangunan.
Indonesia sebagai negara agraris, maka pembangunan ekonomi dan industri berbasis pertanian adalah pilihan sangat tepat karena tersedianya sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang banyak, dan tradisi bertani yang mendarah daging dengan sendirimya mengandung konsekuensi untuk membangun infrastruktur yang memadai, teknologi dan industri yang tepat guna serta pemasaran hasil pertanian yang kompetitif.
Untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan pancasila atau untuk mencapai masyarakat yang memiliki industri yang kuat harus didasari dan didukung oleh sektor pertanian yang tangguh dengan memperkuat sektor pertanian. Ini menunjukkan bahwa perekonomian nasional berupaya untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak dan ini merupakan watak ekonomi kerakyatan yang harus tercermin dalam keseluruhan kegiatan dan pelaksaaan pembangunan.
Dalam rangka pembangunan pertanian, pemerintah bergiat meningkatkan pembangunan pertanian di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara dengan 3 program pembangunan, yaitu :
1. Pengembangan agraris bertujuan untuk mengembangkan agribisnis yang mampu menghasilkan produk pertanian yang berdaya saing.
2. Peningkatan ketahanan pangan untuk meningkatkan keanekaragaman produksi, ketersediaan tanaman pangan, distribusi, menjamin ketersediaan pangan dan gizi yang baik bagi masyarakat.
3. Peningkatan kesejahteraan petani Tujuan pembangunan tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan. Upaya meningkatkan pendapatan adalah sangat penting namun tidak berjalan sendiri. Perlu disertakan perombakan berbagai segi kehidupan masyarakat, misalnya pembangunan yang meniadakan ketimpangan, mengurangi ketidakmerataan, dan menghalau kemiskinan petani khususnya. Indonesia merupakan negara yang  tropis dan kaya akan jenis tanaman palawija dan buah-buahan. Iklim Indonesia memungkinkan untuk tumbuh suburnya berbagai jenis tanaman palawija dan buah-buahan tersebut.
Salah satu produk pertanian yang dapat ditingkatkan nilai tambahnya adalah kelapa sawit. Dalam  perekonomian Indonesia, kelapa sawit (dalam hal minyaknya) mempunyai peran yang cukup strategis karena :
1. Minyak sawit merupakan bahan baku utama minyak goreng, sehingga pasokan yang kontiniu ikut menjaga kestabilan harga dari minyak goreng tersebut. Ini penting sebab minyak goreng merupakan salah
satu dari 9 bahan pokok kebutuhan masyarakat sehingga harganya harus terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
2. Sebagai salah satu komoditas pertanian andalan ekspor non migas, komoditi ini mempunyai prospek yang baik sebagai sumber dalam perolehan devisa maupun pajak.
3. Dalam proses produksi maupun pengolahan juga mampu menciptakan kesempatan kerja dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani kelapa sawit.

Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet (orang Belgia), kemudian budidaya yang dilakukannya diikuti oleh K.Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai berkembang.
Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Selatan (Deli) dan Aceh dengan luas areal perkebunan mencapai 5.123 Ha. Pembangunan perkebunan diarahkan dalam rangka menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sektor penghasil devisa negara.
Pemerintah terus mendorong pembukaan lahan baru untuk perkebunan. Sampai pada tahun 1980, luas lahan mencapai 294.560 Ha dengan produksi CPO (Crude Palm Oil) sebesar 721.172 ton. Sejak itu lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia berkembang pesat terutama perkebunan rakyat, salah satunya adalah Kabupaten Labuhanbatu Utara.

Dari permasalahan-permasalahan di atas, penulis merasa tertarik untuk membahas masalah tersebut dalam sebuah karya tulis berbentuk skripsi dengan judul : “Pengaruh Kredit Pertanian Terhadap Kesejahteraan Petani Kelapa Sawit di Kabupaten Labuhanbatu Utara”.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis mengambil suatu permasalahan yaitu :
1. Bagaimana peranan modal sendiri terhadap peningkatan pendapatan untuk kesejahteraan petani kelapa sawit di Kabupaten Labuhanbatu Utara.
2. Bagaimana peranan modal kredit pertanian yang diterima terhadap peningkatan pendapatan untuk kesejahteraan petani kelapa sawit di Kabupaten Labuhanbatu Utara.
3. Bagaimana peranan luas lahan kelapa sawit terhadap pendapatan untuk kesejahteraan petani kelapa sawit.

Selengkapnya terkait contoh skripsi ekonomi pembangunan dapat anda miliki di sini

Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan Analisis Preferensi Masyarakat Dalam Memilih Institusi Pembayaran Zakat Di Kota Medan

Saat ini saya mencoba lagi posting terkait Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan dengan Judul skripsi Analisis Preferensi Masyarakat Dalam Memilih Institusi Pembayaran Zakat Di Kota Medan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang- Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang mengandung ibadah sekaligus muamalah.Zakat dalam Islam termasuk ibadah yang hukumnya wajib sesuai dalam ayat ayat Al – Qur’an sebagai berikut. “Dan dirikanlah shalat dan bayarkanlah zakat dan ruku'lah kamu beserta orang-orang yang ruku' "(QS. Al – Baqarah (2):43)
“Sesungguhnya zakat – zakat itu, hanyalah untuk orang – orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS. At – Taubah (9):60)
Selain itu zakat dapat juga membantu masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan ekonomi (muamalah) yang dijelaskan dalam Al – Qur’an Surat Ar – Rum ayat 38:
“Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari
keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung”(QS Ar – Rum (30):38)
Menurut Ja’far (2003) dalam Islam terdapat dua jenis zakat yaitu, zakat fitrah dan zakat maal.Zakat fitrah merupakan zakat jiwa yang dibayarkan pada bulan ramadhan.Sedangkan zakat maal merupakan zakat yang dikenakan atas semua harta yang dikenakan kepada seorang wajib zakat (muzakki). Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
Menurut syariah salah satu zakat yang dapat membantu masalah pembangunan perekonomian masyarakat yaitu zakat maal atau zakat harta.Zakat maal merupakan zakat yang dikenakan atas perolehan yang merangkum pendapatan gaji dan pendapatan bebas (Wahid, Ahmadi dan Noor, 2006). Zakat penghasilan menggunakan kadar zakat yang dianalogikan dengan emas 2,5% dari
gaji atau penghasilan yang didapat (Nurhayati dan Wasilah, 2009).
Menurut Barizah (2010), zakat akan meningkatkan ekonomi mereka yang membutuhkan (mustahiq). Wahab (2011), juga mengatakan bahwa zakat merupakan hal utama dalam pencapaian keadilan sosial ekonomi.Maka dari itu potensi zakat untuk menghapuskan kemiskinan dan kesenjangan sosial di Indonesia sangatlah besar karena yang kaya dapat berbagi kesejahteraan kepada yang miskin.
Pada Konferensi Zakat Internasional atau International Zakat Conference (IZC) yang diselenggarakan di Bogor pada tahun 2011 laludiketahui bahwa data dari Badan Amil Zakat Nasional(BAZNAS) yang mengacu pada hasil kajian Asian Development Bank (ADB) menunjukkanpotensi zakat Indonesia bisa mencapai 100 triliunrupiah per tahun (Arifin,2011). Penelitian terbaru dari BAZNASbahkan menunjukkan bahwa potensi zakat nasional tahun 2011 adalah 217 triliun rupiah (Nahaba,2011). Potensi yang cukup besar ini terdiri dari potensi
zakat rumah tangga sebesar 82,7 triliun rupiah, potensi zakat industri swasta sebesar 114,89 triliun rupiah, potensi zakat BUMN sebesar 2,4 triliun rupiah, dan potensi zakat tabungan sebesar 17 triliun rupiah. Sedangkan jumlah zakat yang mampu dihimpun oleh BAZNASdari seluruh Unit Pengelola Zakat (UPZ) yang ada di seluruh Indonesia, walaupun terus meningkat dari tahun ke tahun, namun jumlah absolutnya masih sangat kecil, yakni pada tahun 2007 sebesar 450 miliar
rupiah, kemudian meningkat menjadi 920 miliar rupiah pada tahun 2008, dan sebesar 1,2 triliun pada tahun 2009, selanjutnya menurut perkiraan pada tahun 2010 sebesar 1,5 triliun rupiah. Artinya, dibandingkan dengan potensi, jumlah zakat yang berhasil dihimpun oleh BAZNAS baru kurang lebih 1% per tahun.Jumlah yang sangat kecil untuk dibandingkan dengan potensi yang
seharusnya dicapai. Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
Di Indonesia zakat penghasilan (maal) sudah dianggap suatu kewajiban dan perlu diatur secara legal, yaitu dengan adanya fatwa Majelis Ulama Indonesia no. 3 Tahun 2003 tentang zakat penghasilan(Nasar, 2013) yaitu:
1. Penghasilan adalah setiap pendapatan, seperti gaji, honorarium, upah, jasa dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.
2. Semua bentuk penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nishab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram. 
3. Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab. Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama satu tahun, kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.
4. Kadar zakat penghasilan adalah 2,5 persen.

Selain itu terdapat pula UU no. 17 tahun 2000 tentang zakat sebagai pengurang dalam pendapatan kena pajak. Ada juga keputusan Dirjen Pajak no.KEP-542/PJ/2001 bahwa zakat penghasilan dapat dikurangkan atas penghasilan neto.Fatwa dan UU tersebut diatas tentu saja dibuat dengan
pertimbangan agar dapat meningkatkan jumlah zakat penghasilan (maal) yang dikumpulkan di Indonesia.Fenomena masih besarnya jarak antara potensizakat maal dengan jumlah zakat maal yang benar – benar ditunaikan oleh wajib zakat merupakan konsekuensi dari berbagai faktor.Salah satu faktor yang sangatdominan adalah masih sangat sedikitnya wajib zakat yang telah menunaikan
kewajibannya tersebut secara baik (membayar secara teratur dan melalui BAZ/LAZ) dibandingkan mereka yang masih enggan atau tidak peduli terhadap kewajiban yang melekat padaharta mereka.
Zakat merupakan bagian dari sistem ekonomi Islam. Perintah zakat bertujuan untuk keseimbangan ekonomi, yang mampu menggerakkan seluruh potensi dan optimalisasi kekuatan ekonomi umat. Diwajibkannya zakat bukan sekedar ibadah.Dalam konteks ekonomi zakat merupakan satu bentuk distribusi kekayaan (tauzi’u al – tsarwah) diantara manusia.Distribusi tanpa melalui transaksi ekonomi (Zayadi, 2009).
Menurut Qardhawi dalam Djamal Doa (2004) ada 5 usha yang dapat dilakukan umat Islam untuk mengentaskan kemiskinan, yaitu:
1. Meningkatkan etos kerja individu dan masyarakat
Sebelum adanya perintah bagi orang kaya untuk menginfakkan hartanya dalam rangka membantu meringan kan beban fakir miskin orang-orang yang lemah, melalui zakat, infak, sedekah, wakaf dan sebagainya, yang terlebih dulu dianjurkan kepada individu-individu muslim untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Aktivitas bekerja dinilai sebagai ibadah yang mendatangkan pahala dan menghapus dosa. Optimisme bekerja ditanamkan dengan ungkapan:
“Bekerjalah untuk duniamu, seolah-olah engkau akan hidup selama- lamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu, seolah-olah engkau akan mati besok”
2. Membantu keluarga yang lemah baik di bidang ekonomi maupun lainnya. Bantuan sekecil apapun bagi orang yang sangat membutuhkan uluran tangan, akan sangat bermakna bagi orang tersebut.
3. Membayar zakat bagi anda yang telah mencapai batas kepemilikan harta tertentu (nishab)

Zakat yang telah dibayarkan oleh orang-orang kaya kepada orang yang membutuhkan, tidak hanya menimbulkan kebaikan dan manfaat bagi orang yang menerima.Lebih dari itu, zakat juga mendatangkan kebaikan terkait dengan fungsi zakat yang mensucikan harta, dan berpotensi untukmendapatkan pahala yang berlipat.
4. Dana bantuan perbendaharaan Islam
Dana tersebut berupa dana yang merupakan sumber-sumber pendapatan bagi
institusi baitul m aal seperti zakat, infak, w akaf, jizyah, ushur dan sebagainya.
5.Keharusan menunaikan kewajiban selain zakat.
Kewajiban lain di luar zakat tersebut yaitu kewajiban dalam kaitannya dengan materi atau harta kekayaan. Kewajiban tersebut contohnya adalah kewajiban memberikan nafkah kepada orang yang menjadi tanggungan.
----------------

Dalam pengelolaan zakat, rencana strategis merupakan suatu unsur yang tidak dipisahkan. Ada beberapa alasan tentang hal itu.Pertama adalah kepercayaan.Didalam masyarakat masih sangat asing dan sulit untuk menemukan suatu kepercayaan, butuh waktu yang cukup lama untuk meraih
kepercayaan.Orang – orang yang mengelola zakat adalah salah satu kuncinya. Lembagazakat akan dipercaya jika pengelolaannya benar – benar sesuai dengan kemauan masyarakat, yakni lembaga yang jujur, amanah dan profesional. Berdasarkan keterangan dan fakta yang telah ada, penulis berusaha menganalisis tentang preferensi masyarakat dalam memilih institusi pembayaran
zakat di Kota Medan.

1.2.Perumusan Masalah- Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
Adapun masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah :
1. Apa sajakah faktor faktor yang mempengaruhi masyarakat wajib zakat (Muzakki) dalam memilih institusi pembayaran zakat di kota Medan?
2. Bagaimana preferensi masyarakat wajib zakat (Muzzaki) di Kota Medan dalam memilih institusi pembayaran zakat?

1.3. Tujuan Penelitian- Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui karakteristik masyarakat dalam memilih institusi pembayaran zakat.
2. Untuk mengetahui preferensi masyarakat wajib zakat (Muzakki) di Kota Medan dalam memilih institusi pembayaran zakat.
3. Untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi masyarakat wajib zakat ( Muzakki) dalam memilih institusi pembayaran zakat di Kota Medan.

Selengkapnya terkait Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan Analisis Preferensi Masyarakat Dalam Memilih Institusi Pembayaran Zakat Di Kota Medan Dari Mulai BAB1 hingga BAB5 termasuk daftar pustaka Silahkan miliki di sini

Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan Terbaru Pengaruh Pembelian Kembali (Buy Back) Saham Terhadap Respon Pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Kembali lagi saya posting Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan Terbaru 2014 dengan Judul "Pengaruh Pembelian Kembali (Buy Back) Saham Terhadap Respon Pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI)"
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Skripsi Ekonomi pembangunan
Pasar modal merupakan salah satu sarana pembentuk modal dan akumulasi dana yang ditujukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengadaan dana guna menunjang pembiyaan pembangunan nasional. Dalam kegiatannya, pemerintah telah memberikan berbagai fasilitas kepada perusahaan yang menawarkan saham/obligasi kepada masyarakat, dengan memberikan kemudahan-
kemudahan dan juga memberikan peraturan-peraturan agar kepentingan masyarakat terjamin, sehingga setiap perusahaan yang akan Go Public diteliti kelayakannya.
Pasar Modal di Indonesia sudah dikenal sejak tahun 1912, tetapi karena suasana politik dan ekonomi terhenti dan kembali aktif sejak 1976. Perusahaan yang telah membagi kepemilikan kepada publik, mengharuskan manajemen bekerja dengan profesional. Dengan cara tersebut, perusahaan akan memberikan informasi yang baik dan akurat kepada publik. Informasi tersebut dapat menjadi sinyal yang salah satunya mempengaruhi harga saham baik secara positif maupun
negatif di pasar bursa. Informasi berperan penting dalam memproyeksikan harga saham di pasar sekunder. Pasar sekunder dalam hal ini adalah Bursa Efek Indonesia (BEI). Reaksi yang cepat terhadap informasi yang diberikan kepada pasar, dapat diartikan sangat efisien. Pasar akan bereaksi terhadap suatu informasi untuk mencapai harga keseimbangan yang baru (Jogiyanto, 2011).

Pentingnya keterbukaan informasi mengenai perusahaan bagi pemegang saham (stockholder) banyak dimanfaatkan oleh pihak manajemen dalam mempertahankan harga saham agar tidak mengalami undervalue (harga saham yang terjadi di pasar lebih rendah dari nilai/harga wajarnya atau biasa disebut nilai fundamental saham). Harga saham yang terus meningkat merupakan salah satu faktor pendukung penilaian kinerja perusahaan. Dengan begitu, hubungan antara naik-turunnya harga saham salah satunya dapat dipengaruhi oleh kinerja perusahaan tersebut. Peran informasi yang berpengaruh dalam mempresentatifkan harga saham di pasar bursa, mendorong pemerintah Indonesia melalui Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) menerbitkan sebuah aturan mengenai keterbukaan informasi yang harus diumumkan kepada
publik. Dalam peraturan BAPEPAM-LK No: X.K.I, telah dipaparkan beberapa jenis informasi yang harus segera diumumkan kepada publik. Informasi tersebut berkaitan dengan aksi-aksi perusahaan yang biasa disebut corporate action. Salah satu alasan perusahaan dalam melakukan corporate action adalah meningkatkan Earning Per Shares (EPS) perusahaan tersebut. Peraturan tersebut menjelaskan bahwasannya pembelian kembali saham atau buy back masuk ke dalam kelompok corporate action.Skripsi Ekonomi pembangunan


Weston, Mitchel, dan Mulherin (2004) mendefinisikan buy back saham atau share repurchace sebagai suatu tindakan perusahaan publik yang membeli sahamnya sendiri baik melalui proses tender offer, open market atau melakukan negosiasi pembelian kembali dari blockholder. Buy back dapat juga dipandang sebagai suatu tindakan perusahaan dalam mendistribusikan aliran dana kas keluar kepada para pemegang saham. Jumlah dollar dari transaksi Open Market Repurchase (OMR) mencapai 650% dan 750%, pada tahun 1985 dan 1996. Dari sisi lain, berdasarkan free cash flow theory menyatakan bahwa abnormal return memiliki hubungan positif terhadap cashflow dari aktivitas operasi perusahaan (Jensen,1986), debt ratio, dan size perusahaan (wells,cox, dan Gaver, 1995 ). N V R Rajagopalan and H Shankar (2013) mengemukakan bahwa kegiatan buyback

saham berpengaruh signifikan pada kondisi pasar di India. Skripsi Ekonomi pembangunan


Grullon dan Ikenberry (2002) menemukan bahwa pada tahun 1998, nilai pembelian kembali (buy back) saham oleh perusahaan-perusahaan industri benar- benar melebihi nilai deviden yang dibayarkan. Persentase penghasilan yang tetapi proporsi pembayaran dari buy back terus meningkat (Jagannathan, et al, dalam Maxwell dan Stephens, 2003). Di Swedia, buy back dianggap sebagai informasi yang berharga dan sangat menguntungkan bagi pelaku pasar, maka pemegang

saham dapat langsung bertransaksi pada setiap pengumuman buy back dengan menggunakan metode Open Market Repurchase (OMR) (Rasbrant, 2011).
Menurut Aloysius Aditya ( 2012 ) faktor-faktor yang mempengaruhi buy back atau stock repurchase, antara lain :
1. Excess cash flow tidak berpengaruh positif terhadap stock repurchase, hal ini disebabkan karena perusahaan tidak dapat menghasilkan arus kas yang dapat didistribusikan kepada pemegang saham.
2. Price earning ratio tidak berpengaruh positif terhadap stock repurchase, hal ini disebabkan karena perusahaan menghasilkan laba yang kecil sehingga menyebabkan penurunan nilai saham di masa datang.
3. Leverage berpengaruh terhadap stock repurchase, hal ini disebabkan karena pembelian kembali dapat digunakan untuk mendistribusikan kelebihan dana kepada pemegang saham dan Ketika perusahaan mendistribusikan modal ini, mengurangi ekuitas dan meningkatkan rasio leverage.

Sejak tahun 1998, Indonesia melalui BAPEPAM - LK mengeluarkan peraturan Nomor XI.B.2 tentang “pembelian kembali saham yang dikeluarkan oleh emiten atau perusahaan publik”, menyatakan bahwa saham yang dibeli kembali oleh emiten atau perusahaan publik dapat dijual kembali kepada direktur atau karyawan melalui employee stock option plan atau employee stock purchase plan yang telah disetujui oleh RUPS dengan memperhatikan Peraturan Nomor IX.E.1 tentang “Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu”. Dalam peraturan tersebut, BAPEPAM memberikan sinyal kepada para perusahaan go public yang telah menerbitkan dan menjual sahamnya di pasar bursa untuk melakukan aksi buy back. Hal ini juga merefleksikan bahwa manajer tidak bisa menggunakan peraturan ini untuk kepentingan manajemen semata.
Peraturan tersebut hanya dapat digunakan dalam beberapa kondisi yang memungkinkan perusahaan melakukan aksi buy back. Selain itu, pihak manajemen harus mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan wajib mempublikasikan mengenai rencana pembelian saham
kembali. Krisis keuangan di Amerika Serikat yang dipicu oleh subprime mortgage crisis, ternyata tidak dapat diantisipasi dengan baik bahkan memburuk pada bulan September 2008. Hal ini ditandai dengan ditutupnya beberapa institusi keuangan raksasa dunia, diikuti dengan anjloknya Indeks Dow Jones hingga mencapai level terendah selama 7 (tujuh) tahun terakhir dan menyeret turun kinerja indeks saham di seluruh dunia, tidak terkecuali IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada tanggal 8 Oktober 2008 terjadi penurunan indeks secara tajam hingga menimbulkan kepanikan pasar. Jatuhnya IHSG diakibatkan karena penurunan signifikan harga saham emiten papan atas (blue chip). Pada akhir tahun 2008, IHSG ditutup dengan penurunan sebesar 50,64% ke posisi 1.355,408. Beberapa emiten yang menyumbang penurunan IHSG antara lain harga saham Truba Alam Manunggal E Tbkyang menyumbang penurunan sebesar 96,48%, Polysindo Eka Perkasa Tbk sebesar 95%, Energi Mega Persada Tbk turun sebesar 94,36%, Sumalindo Lestari Jaya Tbk turun 94,26%, Darma Henwa Tbk 92,65%, Bakrie & Brothers Tbk turun 91,38%, Sentul City Tbk menyumbang penurunan 90%, Selain 7 emiten diatas terdapat 13 emiten yang menyumbang penurunan IHSG dibawah 90%, diantaranya : Modernland Reality Ltd Tbk, ATPK Resources Tbk,
Central Proteinaprima Tbk, Bakrie Sumatra Plantations Tbk, Bakrieland Development Tbk, Bakrie Telecom Tbk, Total Bangun Persada Tbk, Integrasi Teknologi Tbk, Bumi Resources Tbk, Ciputra Surya Tbk, Bayan Resources Tbk, AGIS Tbk, Dayaindo Resources Int I Tbk.

Penurunan IHSG pada pasar bursa Indonesia disebabkan oleh pengaruh krisis Eropa yang melanda dunia sejak pertengahan tahun 2008 yang mengabkibatkan saham blue chip di BEI menurun sangat signifikan pada penutupan akhir tahun 2008. Krisis Eropa yang berpengaruh signifikan terhadap
aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), mendorong pemerintah Indonesia melalui BAPEPAM-LK pada tanggal 9 oktober 2008 mengeluarkan satu peraturan baru terkait dengan buy back yaitu peraturan nomor XI.B.3 tentang “Pembelian Kembali Saham Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berpotensi Krisis”.
Peraturan tersebut bertujuan untuk melindungi perusahaan jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada bursa efek di Indonesia mengalami penurunan dalam kurun waktu kurang dari 20 (dua puluh) hari bursa dikarenakan kondisi perekonomian yang tidak mendukung pergerakan harga pasar efek yangwajar. Hasil penelitian Brav, et al (dalam Rasbrant, 2011) menemukan bahwa
sebagian besar manajer melakukan pembelian kembali (buy back) saham ketika saham mereka mengalami under value. Penelitian yang telah dilakukan di beberapa negara, seperti Hong-Kong (Brockman dan Chung, 2001), Jepang (Zhang, 2002), AS (Cook et al., 2004), dan Kanada (McNally et al., 2006) menemukan bukti empiris bahwa keputusan melakukan open market repurchase sebagai pelaksanaan market timing (dalam Rasbrant, 2011).
Market timing merupakan kegiatan dimana perusahaan akan melakukan penjualan equity (saham) pada saat market value tinggi dan akan membeli kembali pada saat market value rendah, Open market repurchase dianggap sebagai suatu sinyal untuk menaikkan harga saham bagi perusahaan yang mengalami undervalue. Manajemen akan bertindak untuk kepentingan jangka panjang
investor. Pihak perusahaan harus membeli kembali sahamnya, ketika mengetahui harga saham di pasar berada di bawah nilai buku. Dengan begitu pembelian saham kembali akan memberikan sinyal positif tentang nilai perusahaan (Rasbrant, 2011).
Maxwell dan Stephens (2003) menemukan reaksi harga saham yang positif terhadap pengumuman program buy back. Sejalan dengan penelitian sebelumnya, Nishikawa, et al. (2011) mendokumentasikan reaksi pasar saham yang positif setelah pengumuman. Pada bursa saham Swedia, pembelian kembali saham dengan metode Open Market Repurchase (OMR) memberikan sinyal baik, dua hari setelah pengumuman terdapat abnormal return positif sebesar 2% dan
berdampak kepada volume pembelian kembali setiap harinya (Rasbrant, 2011).
Mulia (2009) menyatakan bahwa tahun 2001-2007 terdapat 30 pengumuman stock repurchase yang tercatat pada bursa efek Indonesia. Beberapa perusahaan diantaranya melakukan program stock repurchase lebih dari satu kali, seperti PT.
Berlian Laju Tanker (2001, 2005, dan 2006), PT. Telkom (2005 dan 2007), dan PT. H.M Sampoerna (2001, 2002, dan 2003).
Salah satu tujuan yang dikemukakan perusahaan adalah untuk meningkatkan Earning Per Shares (EPS). Reaksi pasar dapat diukur dengan dua cara, yaitu (a) bisa dilihat melalui perubahan harga saham yang diukur dengan menggunakan abnormal return selama hari pengamatan dan (b) melihat trading volume activity saham pada harihari selama pengamatan (Ariyanto dan Rinaningtias, 2009). Trading Volume Activity (TVA) merupakan indikator yang digunakan untuk menunjukkan besarnya minat investor pada suatu saham (Budiman, 2009). Bisa dikatakan semakin besar volume perdagangan, maka saham tersebut sering ditransaksikan. Hal tersebut menunjukan tingginya minat
investor untuk mendapatkan saham tersebut.
Jika investor menganggap transaksi buy back sebagai tanda positif seperti yang dikemukakan Rasbrant (2011), maka hal tersebut akan menaikkan citra perusahaan di mata investor. Peningkatan citra akan meningkatkan minat investor terhadap saham perusahaan yang melakukan buy back. Amalia (2010) dan Rinaningtias (2009) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata volume
aktivitas penjalan sebelum dan sesudah pengumuman peristiwa. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Ariyanto (2009) yang mengemukakan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata trading volume activity sebelum dan sesudah pengumuman peristiwa. Penelitian ini menggunakan data pengumuman informasi buy back perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
sesuai dengan peraturan Nomor X.K.1 dan Nomor XI.B.2 dari Bapepam-LK periode tahun 2008 sampai dengan tahun 2013.

Selain itu, dibutuhkan juga data harga saham dan volume penjualan harian perusahaan terkait yang didapat dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Tujuan penelitian ini untuk mengkonfirmasi hasil yang ditemukan oleh peneliti sebelumnya dengan uji statistik yang sama terhadap komponen variabel yang diteliti oleh Luky (2013), penelitian ini menambahkan sampel dan periode waktu penelitian.

Ketika transaksi buy back dipandang sebagai suatu sinyal informasi menguntungkan bagi pihak pemegang saham, maka peristiwa tersebut akan dilihat sebagai momentum yang baik dalam berspekulasi. Apakah pemegang saham akan tetap mempertahankan investasinya atau sebaliliknya memanfaatkan momentum tersebut untuk menjual saham yang dimiliki. Penelitian ini menguji apakah transaksi buy back mempengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan sesuai hasil
yang didokumentasikan pada penelitian sebelumnya, yaitu pasar bereaksi positif naik terhadap return saham {Stephens & Maxwell (2003); Rahma (2009); Nishikawa et al, (2011); Rasbrant (2011); dan Luky (2013)}. Pengujian variabel Trading Volume Activity (TVA) mengacu pada
penelitian sejenis yang dilakukan Rinaningtias(2009) Amalia (2010) terkait dengan event study yang menguji pengaruh suatu peristiwa terhadap aktivitas volume perdagangan (trading volume activity) menunjukkan reaksi pasar yang signifikan. Berdasarkan pandangan di atas maka penelitian ini diberi judul: “Pengaruh Pengumuman Pembelian Kembali (Buy Back) Saham terhadap Respon
Pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI)”.

1.2 Rumusan Masalah Skripsi Ekonomi Pembangunan
Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menganalisis kegiatan buy back yang dilakukan di berbagai negara. Selain melihat abnormal return, reaksi pasar akibat pengumuman suatu peristiwa juga diukur dengan melihat aktivitas perdagangan dengan menghitung trading volume activity.

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka rumusan permasalahan yang diajukan yaitu :
1). Apakah pengumuman informasi buy back memiliki pengaruh terhadap abnormal return perusahaan terkait di Bursa Efek Indonesia?
2). Apakah pengumuman informasi buy back memiliki pengaruh terhadap trading volume activity perusahaan terkait di Bursa Efek Indonesia?
3). Apakah terdapat perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman buy back?
4). Apakah terdapat perbedaan rata-rata trading volume activity sebelum dan sesudah pengumuman buy back?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Skripsi Ekonomi Pembangunan
1.3.1 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disampaikan sebelumnya, maka penelitian ini bertujuan:
1). Untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh pengumuman buy back terhadap abnormal return saham perusahaan.
2). Untuk menguji ada atau tidaknya pengaruh pengumuman buy back terhadap trading volume activity perusahaan.
3). Untuk menganalisis perbedaan rata-rata abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman buy back berlangsung.

4). Untuk menganalisis perbedaan rata-rata trading volume activity sebelum dan sesudah pengumuman buy back berlangsung.

Selengkapnya terkati Contoh Skripsi Ekonomi Pembangunan Terbaru Pengaruh Pembelian Kembali (Buy Back) Saham Terhadap Respon Pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Dari Mulai BAB1 Hingga BAB5 Penutup Silahkan Miliki di sin

Contoh Skripsi Pemasaran Judul PENGARUH ASPEK FISIK IDENTITAS MEREK TERHADAP EKUITAS MEREK (Penelitian pada Merek AMDK AMNU di Kota Tuban)

Kembali lagi saya akan posting Contoh Skripsi Pemasaran Judul PENGARUH ASPEK FISIK IDENTITAS MEREK TERHADAP EKUITAS MEREK (Penelitian pada Merek AMDK AMNU di Kota Tuban)

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di negeri ini terus mengalami perkembangan sangat pesat. Data Asosiasi Produsen Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) menyebutkan bahwa dalam
tujuh tahun terakhir volume penjualan AMDK tumbuh di atas 10% per tahun. Kalau pada 2004 volume produksinya baru 9,1 miliar liter, pada 2006 melewati 13 miliar liter (www.warta-ekonomi.com 27 April 2007).
Hasil survie Tetra Pak Indonesia juga menyebutkan bahwa urutan pertama konsumsi minuman dalam kemasan di Indonesia adalah produk air minum dalam kemasan, yaitu 67%. Kemudian disusul produk
minuman teh siap minum (13%) lalu minuman berkarbonasi (Majalah KRONIK edisi 41 28 januari 2005).
Petumbuhan industri ini di masa mendatang diperkirakan akan semakin besar. Perkiraan ini dengan asumsi bahwa pada 30 tahunmendatang populasi akan meningkat melebihi 300 juta orang atau hampir mendekati 400 juta orang (Majalah KRONIK edisi 41 28 januari 2005).

Ditambah lagi dengan ketersediaan air minum yang layak minum dalam arti berkualitas dan terjamin dari segi kesehatan semakin sulit diperoleh. (Sinar Harapan,22 maret 2003). Karena itu wajar jika kian hari kian banyak perusahaan yang memasuki industri ini. Hingga saat ini terdapat ratusan perusahaan AMDK yang tersebar di seluruh Indonesia. Badan Pengawas Obat dan Makanan menyebutkan bahwa kini ada lebih dari 1.400 jenis air minum dalam kemasan ada di Indonesia (www.liputan6-sctv.com).
Peluang di industri ini juga masih sangat besar dimasa mendatang. Karena sampai saat ini dari sekian banyak perusahaan AMDK tersebut, termasuk perusahan besar berskala nasional seperti PT Tirta Investama, PT Aqua Golden Mississippi, PT Tirta Sibayakindo dan PT Tang Mas, baru memenuhi 16,6% kebutuhan masyarakat akan air minum. Sehingga sebenarnya untuk perusahaan kecil, masih terdapat kesempatan untuk terus berkembang (Hari Kusumo Wijoyo, 2005: xvii) Dengan semakin banyaknya perusahan yang masuk pada industri AMDK ini, maka persaingan ketat dikalangan produsen menjadi hal yang tak terelakan. Dalam dinamika pasar yang sangat kompetitif inilah peranan merek menjadi sangat penting. Karena atribut-atribut lain seperti atribut produk, biasanya relatif mudah untuk ditiru (Rangkuti,2002:xii). Apalagi AMDK termasuk produk generik yang isi (konten) dari masing masing produk relatif sulit dibedakan, karena sama- sama berbahan dasar air putih. 
Merek yang dibangun dengan baik akan menjadi aset penting perusahaan. Dan tak jarang merek tersebut dihargai dengan nominal bsar oleh perusahaan lain. Seperti Sunkist yang menerima royalti $10,3 milyar karena namanya dipakai sejumlah produk dari perusahaan lain, seperti Sunkist Fruit Gems (Ben Myerson Candy), Sunkist Orange Soda (Cadbury Scheweppes), Sunkist vitamin C dan Sunkist Fruit Snack
(Lipton) ( Rangkuti 2004:15)

Dari sisi konsumen, kekuatan merek inilah yang menjadi indikator kemampuan bersaing suatu produk. Dan merek yang kuat juga akan memperoleh tempat istimewa dalam benak konsumen dan pada akirnya
akan mencipakan loyalitas tinggi pada merek tersebut ( Rangkuti 2004:61) Kekuatan merek ini dalam bahasa pemasaran biasa disebut ekuitas merek (Rangkuti 2004:222). Secara teoritis ekuitas merek adalah
seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh suatu barang atau jasa kepada perusahaan atau pelanggan (Susanto,2004:127). Sedangkan dari segi prilaku konsumen ekuitas merek penting untuk memberikan diferensiasi yang mampu menciptakan keunggulan kompetitif berdasarkan persaingan non harga.
Dalam prespektif Keller (1991:9) Equitas Merek yang lebih dikenal dengan Costumer Based Brand Equity (CBBE) menghendaki adanya penciptaan merek yang familiar, kuat, dan mempunyai asosiasi unik. Hal tersebut dapat dilakukan melalui dua tahap. Yaitu diawali dengan pilihan identitas merek, seperti nama, logo atau simbol, dan diteruskan dengan integrasi identitas merek tersebut dalam dukungan program pemasaran
Dari keterangan tersebut kemudian dapat diketahui pentingnya aspek fisik dalam membangun ekuitas merek. Aspek identitas fisik merek berupa nama merek, grafis merek, tagline dan byline merupakan syarat utama dalam membangun ekuitas merek. Disamping itu identitas fisik merek merupakan salah satu bagian merek yang paling mudah dikenali oleh konsumen dan juga bagian merek yang pertama bersentuhan dengan benak konsumen.

Dari sudut pandang empiris, pentingnya aspek identitas fisik merek salah satunya dikemukanakan Kusationo (2001), yang dalam penelitianaya menemukan bahwa brand name sebagai salah satu elemen identitas fisik merek berpengaruh paling besar terhadap pembentukan presepsi kualitas suatu produk daripada variabel lain yang diteliti yaitu store (tempat penjualan) dan price (harga).
Penelitian mengenai aspek identitas merek yang lain dilakukan oleh Biricik (2006) yang mengemukakan bahwa desain logo sebuah produk mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi konsumen secara emosional dan sekaligus juga mempunyai andil besar dalam membangun loyalitas konsemen.
Tagline sebagai salah satu aspek identitas merek juga mempunyai kontribusi dalam membangun ekuitas merek. Karena tagline dapat memberikan gambaran kepada marketer mengenai intisari dari suatu merek. Tagline yang kuat, akan membantu suatu merek dalam meningkatkan awareness dan juga dapat memperkuat strategi positioning dari merek tersebut. Hermawan Kertajaya menyebut tagline juga sebagai positioning statement, yaitu sebuah pernyataan yang memuat dan menyarikan inti dari positioning perusahaan atau merek. Bentuk ringkas dan aplikatif dari positioning statement sesuatu yang dikenal oleh masyarakat umum dengan istilah slogan atau tagline. (Kartajaya,2002: 56) Dalam konsep Costumer Based Brand Equity (CBBE), Keller (1991) juga mengemukakan bahwa aspek identits merek merupakan syarat utama untuk membangun asosiasi merek yang kuat. Sedangan Asosiasi merek merupakan salah satu unsur penting dalam membangun ekuitas merek. Dalam Prespektif Aaker (1996) dalam Rangkuti (2004:39) maupun prespektif Keller (1993:7) asosiasi merek dipandang sebagai salah satu elemen pembangun equitas merek. Asosiasi Merek adalah segala sesuatu yang dihubungkan dengan daya ingatan konsumen terhadap suatu merek. Asosiasi Merek bisa berupa atribut produk, simbol, negara, organisasi atau bahkan selebriti yang menjadi bintang iklannya (Hermawan,2004:207).  
Dalam konteks merek industri Air minum dalam kemasan di indonesia, asosiasi yang dibangun tiap tiap produsen cukup berfariasi. Mulai dari asosiasi minuman sehat milik Aqua, Sampai asosiasi minuman dari pegunungan yang dipakai Total. Kebanyakan Asosiasi merek AMDK tersebut dibangun melalui pogram komunikasi pemasaran yang gencar, seperti iklan di berbagia media dan program pemasaran langsung lain.
Penelitian ini dilakukan terhadap salah satu merek AMDK di kota Tuban. Merek AMDK ini dipandang menarik untuk diteliti karena merek ini mengambil jalan berbeda untuk membangun mereknya. Tidak seperti
merek AMDK lain yang menjadikan atribut produknya sebagai acuan asosiasi, AMDK merek AMNU ini justru memilih mengarahkan asosiasi mereknya pada salah satu ormas Islam terbesar di negeri ini, Nahdlatul
Ulama’ (NU).
Pembangunan asosiasi ini juga tidak dilakuakn seperti halnya merek AMDK kebanyakan, yang mengandalkan komunikasi pemasaran, melainkan dengan cara mengelola elemen-elemen fisik mereknya. Seperti nama merek, logo, tag line dan penyajian grafis lainya. Langkah ini, dalam Monash Marketing Dictionary disebut sebagai sebuah upaya Brand leverage. Yaitu satu kegiatan dari suatu merek yang
mengaitkan dirinya (merek) dengan entitas diluar merek tersebut dan mentransfer beberapa asosiasi dari entitas tersebut ke merek yang bersangkutan. Dengan demikian merek tersebut “meminjam” asosiasi entitas yang akan ditarik tersebut dan diharapkan bisa mentransfer ekuitas merek entitas tadi (http://dictionary.babylon.com) Temuan Frontier Consulting Group mengenai karakter unikkonsumen Indonesia setidaknya dapat menunjukan adanya peluang brand leverage yang dilakuakan AMDK AMNU tersebut akan tercapai. Frontier menyebutkan bahwa salah satu karakter unik konsumen Indonesia adalah
cenderung relegius. Salah satu ciri khasnya adalah konsumen Indonesia suka dengan produk yang mengusung simbol-simbol agama. Konsumen Indonesia juga lebih melibatkan faktor emosi yang berhubungan dengan agama & kepercayaan dalam pembelian produk low involvement (misal:
makanan, minuman, obat-obatan) dibandingkan dalam produk high involvement (Majalah Marketing Edisi Khusus, 1 Agustus 2007) Nama Nahdlatul Ulama’ (NU) jika dilihat sebagai sebuah brand
(merek) memang termasuk merek yang kuat. Organisasi yang berdiri tahun 1926 ini disebut sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia yang paling mengakar sampai ke tingkat masyarakat paling bawah. Memang belum ada data pasti tentang berapa sebenarnya jumlah para warga NU di seluruh Indonesia. Lembaga Survei Indonesia menyebutkan, 40 persen dari seluruh jumlah pemilih di Indonesia dalam pemilu adalah warga NU.

Sedangkan di Jawa timur lebih dari 40 persen jumlah pemilih warga NU (Kompas Sabtu, 15 Mei 2004) Namun apakah kekuatan nama NU tersebut juga akan meluas kepada merek AMDK AMNU yang elemen mereknya di asosiasikan dengan nama organisasi tersebut? Pertanyaan inilah yang diupayakan untuk dijawab dalam penelitian ini.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah aspek identitas fisik merek AMDK AMNU berupa nama merek, grafis merek, tag line, dan
byline, berpengaruh, baik secara simultan maupun parsial, terhadap ekuitas mereknya.
2. Aspek identitas merek yang mana paling dominan dalam mempengaruhi ekuitas merek AMDK AMNU tersebut.

Selengapnya terkait Contoh Skripsi Pemasaran Judul PENGARUH ASPEK FISIK IDENTITAS MEREK TERHADAP EKUITAS MEREK (Penelitian pada Merek AMDK AMNU di Kota Tuban) Dari BAB I hingga BAB 5 Penutup termasuk daftar pustaka dan lampiran silahkan kunjungi di sini

Skripsi manajemen pemasaran : PENGARUH VARIABEL-VARIABEL MAKRO EKONOMI TERHADAP OMZET PENJUALAN di TOKO SAKINAH PAITON PROBOLINGGO

Skripsi manajemen pemasaran : PENGARUH VARIABEL-VARIABEL MAKRO EKONOMI TERHADAP OMZET PENJUALAN di TOKO SAKINAH PAITON PROBOLINGGO

BAB I

PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Krisis ekonomi global  telah terjebak pada sistem kapitalisme internasional sehingga sampai saat ini sepertinya tak ada persiapan jelas menghadapi krisis keuangan global yang berawal dari runtuhnya industri keuangan di Amerika Serikat. Menurut Kaminsky, dkk. (1998) dalamPrasetyantoko (2008:13) Krisis adalah sebuah situasi di mana serangan pada sistem nilai tukar menyebabkan depresiasi tajam pada nilai tukar itu, atau juga bisa mengakibatkan penurunan drastis dalam cadangan devisa asing (international reserves). Menghadapi krisis global (variabel-variabel makro ekonomi) pada saat ini, manajemen dalam membuat keputusan harus mampu menyatukan dan mengembangkan berbagai elemen yang relevan ke dalam situasi total perusahaan. Di sisi lain perusahaan dituntut mengantisipasi dampak krisis global (variabel-variabel makro ekonomi) yang menyerang seluruh Negara didunia ini, baik Negara berkembang maupun Negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia.

 
Krisis pasar finansial yang menimpa perekonomian Amerika Serikat (AS) yang menyeruak kepermukaan sejak Agustus 2007, krisis yang dipicu oleh masalah surat utang berbasis perumahan berkualitas rendah (subprime mortgage) tersebut, bukanlah sesuatu yang baru (Prasetyantoko, 2008:2). Dan meskipun kejadian tersebut menimpa perekonomian Amerika Serikat (AS), namun kejadian tersebut mempengaruhi ritme perekonomian dunia yang melambat serta dikenal sebagai masa serba sulit (malaise). Masa-masa sulit tersebut ditandai dengan terjadinya depresiasi nilai tukar mata uang Indonesia (Rupiah) terhadap mata mata uang Amerika Serikat (Dollar AS), melonjaknya harga minyak dunia, tingginya harga pangan, dan lain sebagainya. Krisis sebagai sebuah situasi di mana serangan pada sistem nilai tukar menyebabkan depresiasi tajam pada nilai tukar itu, atau juga bisa mengabikatkan penurunan drastis dalam cadangan devisa asing (international reserves) (Kaminsky, dkk., 1998 dalam Prasetyantoko, 2008:13).

Nilai tukar rupiah terkoreksi tajam pada akhir Desember 2008 yaitu pada level Rp 10.900/USD. Kondisi ini sejalan dengan kinerja neraca pembayaran yang menunjukkan penurunan sejak Triwulan III-2008, sebagaimana tercermin dari peningkatan defisit transaksi berjalan  (current account) dan mulai defisitnya neraca transaksi modal dan finansial (financial account). Peningkatan defisit transaksi  berjalan terutama bersumber dari anjloknya kinerja ekspor sejalan dengan kontraksi perekonomian global yang diiringi dengan merosotnya harga berbagai komoditas ekspor. Sementara, kesulitan likuiditas keuangan global dan meningkatnya perilaku risk aversion dari pemodal asing memicu terjadinya realokasi ke aset yang lebih aman (flight to quality) juga berdampak pada menurunnya kinerja neraca transaksi modal dan finansial. Menyusul tertekannya kinerja ekspor secara signifikan, dunia usaha pun mulai terkena imbas dan gelombang pemutusan hubungan kerja mulai terjadi, khususnya di industri-industri berorientasi ekspor seperti industri kayu, tekstil, dan pengalengan ikan (www.bi.go.id/../Bab3KrisisEkonomiGlobaldanDampaknyaterhadapPerekon.pdf 22 Juli 2009). Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Frankel dan Rose (1996) dalamPrasetyantoko (2008:13) mengatakan krisis nilai tukar didefinisikan sebagai perubahan besar pada beberapa indikator pada nilai aktual atau potensial dari sebuah mata uang. Selain itu, harga minyak terus menerus mencetak rekor tertinggi, yaitu menyentuh harga 100-110 dollar AS/barrel, bahkan mencapai 145 dollar AS/barrel pada minggu pertama bulan juli 2008 (Prasetyantoko, 2008:177). 
   Krisis global (variabel-variabel makro ekonomi) kini mulai dirasakan pengusaha tesktil dan produk tekstil (TPT). Termasuk Toko Sakinah Paiton Probolinggo, toko yang bergerak dalam bidang industri tekstil (pakaian) yang terpadu. Tidak bisa dipungkiri, krisis ekonomi keuangan global yang bersumber dari sistem ekonomi kapitalis di Amerika ini juga berdampak langsung kepada perekonomian Indonesia, tidak luput juga di industri tekstil (Jaka Sriyana, 2009). Ini terlihat dari ekspornya yang mulai melambat, yakni hanya tumbuh 5,6% dari 1,237 miliar dollar AS menjadi 1,312 miliar dollar AS pada semester pertama 2008. Hal ini menunjukkan bahwasanya melambatnya pertumbuhan ekspor komoditas ini semakin terasa terhadap pasar Amerika Serikat. Sepanjang semester pertama ini, secara nilai ekspor ke AS  hanya naik tipis, yakni 0,75% dari periode yang sama dua tahun lalu. Dari nilainya 530,171 juta dollar AS di periode yang sama tahun 2007, dan hanya mencapai 534.169.438 dollar AS untuk 2008 (Puspita Handayani, 2008). Dengan demikian, kenaikan omzet penjualan ekspor yang semakin melambat dari semester pertama tahun 2008 dibandingkan semerter pertama tahun 2007 yaitu sebesar 0,75%.
Perkembangan tesktil dan produk tekstil (TPT) dewasa ini sangatlah komplek dan selalu mengalami berbagai perubahan yang sangat cepat, akibat krisis subprime mortgage yang menimpa Amerika Serikat (AS). Perubahan-perubahan yang cepat tersebut, turut berpengaruh terhadap strategi pemasaran yang diambil oleh perusahaan tekstil di seluruh Indonesia, sebab kadang strategi pemasaran yang digunakan hari ini tidak tepat lagi untuk digunakan dihari esok.
Salah satu unsur dalam strategi pemasaran adalah bauran pemasaran, merupakan strategi yang dijalankan perusahaan, yang berkaitan dengan penentuan bagaimana penrusahaan menyajikan penawaran dan perencanaan produk atau jasa, penentuan harga, media promosi, dan distribusi pada pada segmen pasar tertentu, yang merupakan pasar sasarannya. Bauran pemasaran merupakan kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari dari sistem pemsaran, variabel mana dapat dikendalikan oleh perusahaan untuk mempengaruhi tanggapan konsumen dalam pasar sasaran. Variabel atau kegiatan tersebut perlu dikombinasikan dan dikoordinasikan oleh perusahaan secara efektif mungkin dalam melakukan kegiatan pemasaran. Dengan demikian perusahaan tidak hanya sekedar memiliki kombinasi kegiatan yang terbaik saja, akan tetapi dapat mengkoordinasikan berbagai variabel bauran pemasaran tersebut, untuk melaksanakan program pemasaran secara efektif.
Secara defisional, pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep, harga, promosi, dan distribusi sejumlah ide, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi (Lamb, dkk., 2001:6). Selain itu pemasaran juga dapat diartikan sebagai proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, promosi, dan distribusi gagasan, barang, dan jasa dalam rangka memuaskan tujuan individu dan organisasi. Konsep diatas secara emplementatif, dikenal dengan istilah bauran pemasaran (Candra, 2005:1).
Fokus utama dari strategi pemasaran adalah mengalokasikan dan mengkoordinasi sumber daya dalam kegiatan pemasaran untuk mencapai tujuan perusahaan di dalam produk pasar spesifik (Boyd, dkk., 2000:30-31). Oleh karena itu, isu penting dari ruang lingkup strategi pemasaran termasuk menspesifikasi pasar sasaran untuk produk atau lini produk tertentu. Kemudian perusahaan mencari keunggulan kompetitif dan sinergi melalui program unsur-unsur bauran pemasaran yang terintegrasi dengan baik (terutama pemasaran, yaitu : produk, harga, saluran distribusi, dan promosi) yang dirancang untuk kebutuhan dan keinginan pelanggan potensial di dalam pasar sasaran.
Dalam perspektif penelitian ini, setiap variabel krisis global (variabel-variabel makro ekonomi) yaitu : Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS, naiknya Harga Minyak, dan Harga Emas mempengaruhi strategi pemasaran melalui salah satu pemahaman dari peranan setiap komponen bauran pemasarannya adalah sejauh mana kontribusi setiap komponen dalam meningkatkan volume penjualan. Sehingga, untuk dapat mendorong meningkatnya volume penjualan sesuai dengan yang direncanakan dalam menghadapi krisis global (variabel-variabel makro ekonomi) sekarang, maka bauran pemasaran merupakan salah satu cara yang ditempuh sebagai alat pencapaian tujuan tersebut.
Dengan melaksanakan bauran pemasaran yang efektif dan efisien, diharapkan perusahaan mampu mengkomunikasikan produk kepada pasar sasaran, memberi informasi tetang keistimewaan, kegunaan, dan yang penting adalah tentang keberadaannya dalam mengubah sikap ataupun untuk mendorong orang untuk bertindak (membeli), yang pada akhirnya akan menguntungkan bagi perusahaan yang terindikasi dari meningkatnya volume penjualan.
Berdasarkan pada alasan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Variabel-Variabel Makro Ekonomi Terhadap Omzet Penjualan di Toko Sakinah Paiton Probolinggo”.

2. RUMUSAN MASALAH
Apakah variabel-variabel makro ekonomi berpengaruh secara simultan terhadap omzet penjualan Toko Sakinah Paiton Probolinggo?
Apakah variabel-variabel makro ekonomi berpengaruh secara parsial terhadap omzet penjualan Toko Sakinah Paiton Probolinggo? 

Selengkapnya terkait Skripsi manajemen pemasaran : PENGARUH VARIABEL-VARIABEL MAKRO EKONOMI TERHADAP OMZET PENJUALAN di TOKO SAKINAH PAITON PROBOLINGGO dari bab I hingga bab5 silahkan cek di sini

Contoh Skripsi Manajemen SDM Judul : PENGARUH KOMUNIKASI PERSUASIF TERHADAP KINERJA KARYAWAN ASURANSI JIWA BERSAMA (AJB) BUMIPUTERA 1912 CABANG PASURUAN KOTA

Assalamualaikum, kembali lagi saya akan memposting Contoh Skripsi Manajemen SDM kali ini berjudul : PENGARUH KOMUNIKASI PERSUASIF TERHADAP KINERJA KARYAWAN ASURANSI JIWA BERSAMA (AJB) BUMIPUTERA 1912 CABANG PASURUAN KOTA, dari koleksi folder komputer saya.

BAB I
LATAR BELAKANG Contoh Skripsi Manajemen SDM
A. LATAR BELAKANG
Perusahaan sebagai organisasi bisnis, agar tetap bertahan dan mampu bersaing dengan kompetitor perlu melakukan upaya untuk mengelola sumber daya yang dimiliki terutama sumber daya manusia yang sampai saat ini masih menjadi penentu keberhasilan perusahaan.
Faktor manusia sangat berperan dalam pencapaian tujuan organisasi. Sumber daya terpenting dalam organisasi adalah sumber daya manusia. Melihat manusia sebagai komponen paling esensial dalam setiap langkah organisasi, maka sepatutnya apabila manajemen perusahaan memberikan pembinaan dan dorongan untuk meningkatkan kemampuan kerja karyawan. Penemuan baru dalam bidang teknologi yang cenderung mengambil alih peran sumber daya manusia dengan mesin yang serba otomatis yang bisa menyingkirkan tenaga manusia sebagai operator atau pengendali. Upaya pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan akan sangat bergantung pada berperannya pimpinan. Pimpinan mempunyai peranan penting karena besarnya tanggung jawab dalam memimpin dan menjamin kelancaran tugas para karyawan. Pimpinan dan karyawan sebagai sumber daya manusia dalam organisasi² ?gat menentukan keberhasilan suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan. Contoh Skripsi Manajemen SDM

Tenaga kerja merupakan asset bagi sebuah perusahaan. Organisasi sebagai bentuk persekutuan dua orang atau lebih yang bekaerja sama perlu meningkatkan kinerja karyawan dalam upaya mencapai tujuannya.
Peningkatan kinerja karyawan akan berdampak pada pencapaian efektivitas dan evisiensi organisasi.
Produktivitas kerja karyawan AJB Bumiputera 1912 cabang Pasuruan Kota semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan kemampuan karyawan dalam melaksanakan tugas pekerjaan tepat pada waktunya, tingkat absensi karyawan per bulan yang dulunya mempunyai absensi rata- rata 3-4 kali perbulan per karyawan menjadi 1-2 kali perbulan per karyawan, dan ketepatan waktu karyawan dalam masuk kerja.

AJB Bumiputera 1912 kantor Cabang Pasuruan Kota perlu lebih meningkatkan produktivitas kerja karyawannya, apalagi sebagai salah satu asuransi, kompensasi bagi karyawan biasanya berdasarkan kepangkatan dan senioritas dalam bentuk bonus, insentif dan penghargaan kepada karyawan
yang berprestasi. Pengalaman kerja karyawan yang rata- rata 20 tahunan lebih menjadi modal awal peningkatan kinerja perusahaan. "Contoh Skripsi Manajemen SDM" AJB Bumiputera 1912 adalah perusahaan asuransi jiwa nasional milik
bangsa Indonesia yang pertama dan tertua. Didirikan di Magelang pada tangal 12 februari 1912 atas prakarsa seorang guru sederhana bernama M. Ng. Dwidjosewojo- sekretaris persatuan guru hindia belanda (PGHB) gagasan pendirian perusahaan asuransi ini karena didorong oleh keperihatinan yang mendalam terhadap nasib para guru bumi putera. Dalam pendirian tersebut M. Ng. Dwidjosewojo dibantu bersama dua orang guru lainnya yaitu MKH Soebroto dan M. Adimijdojo.Alasan didirikan AJB Bumiputera
1912 Pasuruan ini atau anak cabang karena untuk mempermudah layanan di berbagai kecamatan.

Letak perusahaan berarti dimana perusahaan melakukan aktivitasnya sehari- hari sedangkan letak perusahaan ini menentukan masa depan perusahaan. Adapun letak AJB Bumiputera 1912 adalah di jl. Panglima Sudirman no. 31 Pasuruan. AJB Bumiputera 1912 kantor Cabang Pasuruan Kota dipimpin oleh
seorang kepala cabang yang membawahi Administratur dan beberapa Supervisor dan Agen. Perusahaan ini dalam perkembangannya banyak mengalami perubahan, salah satunya adalah penerapan gaya kepemimpinan. AJB Bumiputera 1912 sebagai asuransi jiwa pertama dan tertua yang sebelumnya menerapkan gaya kepemimpinan yang menghendaki pimpinan lebih dominan dalam mempengaruhi atau menentukan perilaku karyawan. Seiring dengan perkembangan zaman, gaya kepemimpinan yang telah
mengalami perubahan yaitu pimpinan lebih menghargai dan terbuka terhadap masukan yang diberikan karyawan sehingga kerja sama yang berlangsung secara timbal balik.

Tidak seperti perusahaan berbentuk perseroan terbatas (PT) yang kepemilikanya hanya oleh pemodal tertentu, sejak awal pendirianya Bumiputera sudah menganut sistem kepemilikan dan penguasaan yang unik,
yakni bentuk badan usaha mutual atau usaha bersama. Upaya pimpinan dalam meningkatkan kinerja karyawan ini tidak terlepas dari adanya komunikasi. Komunikasi merupakan faktor penting kehidupan suatu organisasi baik organisasi yang dilakukan oleh pimpinan terhadap karyawan maupun komunikasi yang dilakukan oleh karyawan itu sendiri. Peran pimpinan dalam mengerakkan sumber daya yang ada sangat
menentukan terhadap sukses tidaknya organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Setelah melakukan wawancara dengan pimpinan dan dikuatkan peneliti dengan mengadakan PKL (Praktek Kerja Lapangan) selama 40 hari di AJB Bumiputera 1912 Cabang Pasuruan Kota, peneliti menyimpulkan bahwa pimpinan AJB Bumiputera 1912 Cabang Pasuruan Kota dalam berkomunikasi dengan karyawan menggunakan komunikasi persuasif.

Tujuan memilih teknik ini adalah memperoleh efek yang langsung atau tahanlama sesuai dengan yang diinginkan komunikator. Komunikasi persuasifdisini lebih mengarah pada kegiatan psikologis, suatu teknik komunikasi yang memiliki aspek-aspek manusiawi. Beberapa teknik dalam komunikasi persuasif yang dikemukakan oleh Effendy (1992: 22) yaitu: Pertama, Teknik Integrasi adalah kemampuan komunikator untuk menyatukan diri secara komunikatif dengan komunikan. Kedua, Pay-Off Idea adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang lain dengan cara mengiming- ngiming hal yang menguntungkan atau yang menjanjikan
harapan. Ketiga, Iching Device yaitu menata pesan komunikasi dengan himbauan emosional sedemikian rupa sehingga komunikan menjadi lebih tertarik.

Contoh Skripsi Manajemen SDM- Adanya komunikasi persuasif yang diterapkan di AJB Bumiputera 1912 Pasuruan ini mempererat hubungan pimpinan dan karyawan yang secara tidak langsung akan mampu meningkatkan kinerja karyawan. Dari latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk mengambil judul penelitian Pengaruh Komunikasi Persuasif Terhadap Kinerja Karyawan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Cabang Pasuruan Kota
karena didalam suatu perusahaan, komunikasi itu sangat penting. Seperti yang dijelaskan oleh Lindgren (dalam Effendy, 2001: 17) yang menyatakan bahwa Effective Leadership Means Effective Communication . Seorang pimpinan harus mampu melaksanakan komunikasi secara efektif jika ingin melaksanakan kepemimpinan yang efektif. Seorang pimpinan berkomunikasi efektif bila ia mampu membuat para karyawan melakukan kegiatan tertentu dengan kesadaran, kegairahan, dan kegembiraan. Suasana seperti itu diharapkan dapat meningkatkan kinerja yang tinggi. Alasan peneliti memilih obyek di AJB Bumiputera 1912 Cabang Pasuruan Kota, yang pertama adalah karena AJB Bumiputera 1912 merupakan asuransi pertama dan tertua yang ada di Indonesia. Alasan kedua yaitu dari penelitian awal memang terdapat komunikasi persuasif di lingkungan AJB Bumiputera 1912 Cabang Pasuruan Kota oleh pimpinan terhadap bawahan.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang ini, serta untuk mengetahui ssecara lebih lanjut tentang komunikasi dan juga kinerja karyawan, maka dapat dirumuskan suatu permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah teknik Integrasi berpengaruh secara parsial terhadap kinerja karyawan AJB BUMIPUTERA 1912 cabang Pasuruan kota?
2. Apakah teknik Pay off Idea berpengaruh secara parsial terhadap kinerja karyawan AJB BUMIPUTERA 1912 cabang Pasukruan kota?

Selengkapnya terkait Contoh Skripsi Manajemen SDM Judul : PENGARUH KOMUNIKASI PERSUASIF TERHADAP KINERJA KARYAWAN ASURANSI JIWA BERSAMA (AJB) BUMIPUTERA 1912 CABANG PASURUAN KOTA dari BAB I hingga BAB 5 Penutup termasuk daftar pustakan dan lampiran silahkan cek di sini 

CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN PEMASARAN JUDUL ANALISIS AKSIBILITAS KONSUMEN PADA PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN (Studi pada Pasar Tradisional Wonokromo dan DTC/Darmo Trade Center Surabaya)

Kembali lagi saya akan posting di blog ini soalnya udah beberapa hari ini ndak posting, Kali ini saya akan memposting terait CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN PEMASARAN JUDUL : ANALISIS AKSIBILITAS KONSUMEN PADA PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN (Studi pada Pasar Tradisional Wonokromo dan  DTC/Darmo Trade Center Surabaya), dari koleksi skripsi yang ada di folder komputer saya.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang Contoh Skripsi Manajemen Pemasaran
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa saat ini, banyak sekali perdebatan mengenai pasar tradisional melawan pasar modern. Segalanya bermula ketika banyak pedagang pasar tradisional yang “ngandang” alias gulung tikar diakibatkan oleh menjamurnya pasar - pasar modern. Banyak pendapat dan pandangan para ahli digulirkan. Peraturan presiden yang mengatur tentang hal ini pun juga telah dikeluarkan. Yaitu peraturan presiden (Perpres) No 112 Tahun 2007 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan, serta toko modern (biasa disebut perpres pasar modern), akhirnya ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Desember 2007 lalu. Dan dalam Peraturan Daerah No 2 Tahun 2002 tentang perpasaran swasta, sudah diatur bahwa jarak antara pasar tradisional dan modern minimal 2,5 kilometer. Sementara itu, pada kenyataannya, hampir setiap 500 meter di wilayah pinggiran kota, kita akan sangat mudah menemukan pasar modern dan supermarket kecil-kecilan. Akan tetapi bukan bararti masalah ini bisa sepenuhnya bisa teratasi.
Seiring dengan perkembangan waktu, adanya modernisasi dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, banyak masyarakat Surabaya yang berbelanja di pasar modern (supermarket/hypermart) dan mulai enggan berbelanja di pasar tradisional (kecuali untuk produk-produk yang tidak ada di supermarket/hypermart). Tidak sedikit konsumen yang merubah perilaku belanjanya dari pasar tradisional pindah, coba-coba (trial), dan cari alternatif (switching) ke pasar modern. Hal ini wajar karena kondisi pasar tradisional selalu identik dengan becek, semerawut, kurang nyaman. Kelemahan dari pasar tradisional inilah yang menjadi daya jual bagi pasar modern. Seperti hal nya pada Darmo Trade Center (DTC) yang menyediakan tempat yang nyaman, teratur, bergengsi, ber-AC, aman, bersih, dan pembeli bisa memilih barang dengan leluasa.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2000) perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya.
(Whidya utami, Christina, 2008: 48) menyebutkan faktor-faktor yang menjadi penentu keputusan pada seseorang datangnya tidak hanya dari pengaruh eksternal yang meliputi pengaruh keluarga, kelompok yang dijadikan acuan, dan budaya saja, akan tetapi juga juga dipengaruhi oleh faktor internal konsumen yaitu pengaruh pribadi dan pengaruh psikologis konsumen. Pengaruh pribadi meliputi usia, tahap siklus hidup, pekerjaan, lingkungan ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep diri. Sedangkan pengaruh psikologis meliputi motivasi, persepsi, pembelajaran serta keyakinan. Dan yang terakhir adalah faktor stimulus yang berupa strategi bauran eceran (retail mix) yang meliputi produk, harga, promosi, lokasi, personalia, dan presentasi.
Secara umum pengertian pasar adalah kegiatan penjual dan pembeli yang melayani transaksi jual-beli (www.id.wikipedia.org). Pengkategorian pasar tradisional dan pasar modern sebenarnya baru muncul belakangan ini ketika mulai bermunculannya pasar swalayan, supermarket, hypermarket dsb.
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Sedangkan Pasar modern adalah pasar yang penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga (www.id.wikipedia.org).
Kotler dan Amstrong (2001:61) mendifinisikan retailing sebagai semua kegiatan yang dilibatkan dalam penjualan barang atau jasa langsung pada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi atau non bisnis. Maka, bisnis retail dapat diartikan sebagai kegiatan pasar yang merancang untuk memberikan kepuasan pada konsumen pemakai dan mempertahankan para pelanggan melalui program peningkatan kualitas berkelanjutan.
Dimensi-dimensi inilah yang mendasari perilaku konsumen. Hingga proses pemilihan produk, kompleksitas faktor-faktor tersebut harus benar-benar dipahami oleh pemasar yang dalam hal ini adalah pasar tradisional Wonokromo dan Darmo Trade Center(DTC) Surabaya, agar dapat mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen, sehingga pihak pemasar dapat menentukan strategi yang tepat untuk mendapatkan dan mempertahankan pangsa pasar masing-masing.
Pengaruh pribadi kerap memainkan peranan penting dalam pengambilan keputusan konsumen. Setiap kepribadian yang berbeda-beda pada tiap-tiap orang mempunyai perilaku pembelian orang tersebut. (Kotler, Amstrong. 2003:214). “Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang membedakan seseorang yang menghasilkan tanggapan secara konsisten dan terus-menerus terhadap lingkungannya.” Kepribadian biasanya dideskripsikan berdasarkan sifat-sifat seperti kapercayaan diri, dominasi, kemampuan beradaptasi, dan agresifitas.
Hal ini tidak terlepas dari pola perilaku belanja pelanggan yang sedikit demi sedikit berubah yang perlu direspons secara aktif oleh peritel untuk dapat mempertahankan keberlanjutan usahanya. Dalam hal ini pelanggan sangat memperhatikan hal-hal yang terkait dengan nilai tambah terhadap kenyamanan mereka dalam melakukan aktivitas belanja mengingat berubahnya pandangan bahwa belanja adalah merupakan aktivitas rekreasi, maupun pemenuhan keanekaragaman kebutuhan mereka dalam satu lokasi (one stop shopping).
Akan tetapi merosotnya eksistensi pasar tradisional bukan sepenuhnya akibat adanya pasar modern. Karena pada kenyataannya  menurunnya omset pasar tradisional juga dipengaruhi oleh perubahan selera konsumen (masyarakat). Sehingga salah satu cara agar pasar tradisional tetap bertahan, perlu pembenahan atau revitalisasi dibeberapa aspek yang meliputi, sarana dan prasarana, pelayanan, dan lain-lain.
Peneliti memilih lokasi di daerah Wonokromo Surabaya karna pertimbangan latar belakang dan pendapatan masyarakat yang beragam dari masyarakat yang notabene perekonomiannya kelas bawah, menengah dan atas. Sehingga memicu beragamnya tingkat konsumsi, kebiasaan atau perilaku belanja, dan beragamnya keputusan mereka dalam memilih atau menentukan jasa pasar yang akan mereka pilih. Dan dari sana pula akan tergambar jelas aksibilitas konsumen yang akan sangat berbeda antara konsumen pasar tradisional dan konsumen pasar modern. Dengan latar belakang inilah peniliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Aksibilitas Konsumen pada Pasar Tradisional dan Pasar Modern” (Studi pada Pasar Tradisional Wonokromo dan DTC Surabaya).

1.2.  Rumusan Masalah Contoh Skripsi Manajemen Pemasaran
Berdasarkan latar belakang di atas, keberadaan pasar tradisional dan pasar modern yang dijadikan sebagai mediasi oleh masyarakat untuk mengadakan pertukaran (membeli dan menjual) sangat urgen adanya. Oleh karena itu dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini, yaitu:
1.         Bagaimana faktor pribadi dan faktor-faktor retail mixsecara bersama-sama dipertimbangkan konsumen dalam memilih tempat belanja antara pasar tradisional dan pasar modern?

2.         Apakah ada perbedaan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan bagi konsumen dalam memilih tempat belanja antara pasar tradisional dan pasar modern?
Selengkapnya terkait CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN PEMASARAN JUDUL ANALISIS AKSIBILITAS KONSUMEN PADA PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN (Studi pada Pasar Tradisional Wonokromo dan  DTC/Darmo Trade Center Surabaya), Dari mulai BAB I Hingga bab 5 Penutup termasuk daftar pustaka dan lampiran silahkan Masuk di sini

CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN PEMASARAN JUDUL : ANALISIS PENGARUH REKOMENDASI TERHADAP LOYALITAS KONSUMEN (Studi pada AHASS 0003 Malang Honda Center PT. Mitra Pinasthika Mustika Malang)

Kali ini kembali lagi saya akan mencoba memposting koleksi skrispsi dari folder laptop saya terkati CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN PEMASARAN JUDUL : ANALISIS PENGARUH REKOMENDASI TERHADAP  LOYALITAS KONSUMEN (Studi pada AHASS 0003 Malang Honda Center  PT. Mitra Pinasthika Mustika Malang)

BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
            Transportasi memegang peranan yang penting dalam kehidupan setiap orang. Transportasi yang praktis, irit, dan aman atau safety adalah keinginan setiap orang pada saat ini. Dimana setiap orang ingin dapat sampai ke tempat tujuannya dengan tepat dan aman, tanpa terjebak dengan kemacetan lalu lintas. Untuk memenuhi keinginan tersebut setiap orang menggunakan sarana transportasi sepeda motor. Akibatnya tidak heran kalau jumlah penjualan sepeda motor dari tahun ke tahun terus meningkat.     
Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, Indonesia merupakan pangsa pasar yang potensial bagi penjualan sepeda motor. Sehingga Indonesia menjadi sasaran pusat produksi dan pemasaran sepeda motor, apalagi hampir semua komponen sepeda motor sudah bisa diproduksi sendiri. Setiap tiga detik, kini sudah bisa dihasilkan sebuah sepeda motor. Merek-merek motor ternama sudah memiliki pabrik di Indonesia (Gunawan dalam Kompas, 13 November 2006).

 
Sehingga persaingan dari merek Honda dengan yang lain, mengharuskan Honda untuk melakukan diversifikasi produknya, yang salah satunya berupa basis layanan purna jual (H1, yaitu program garansi,

info AHASS, dan ketersediaan spare part). Hal ini bertujuan selain meningkatakan aspek bisnis, juga untuk melakukan layanan purna jual yang diharapkan berdampak pada aspek loyalitas.
            Di dalam layanan purna jual tersebut dilaksanakan pula pemberian informasi tentang hak konsumen mengenai garansi sepeda motor Honda untuk mesin selama tiga tahun dan peraturan-peraturan yang lain serta informasi tentang lokasi-lokasi pelayanan service  di AHASS yang tersebar di seluruh Indonesia, yang dikemas dalam bentuk kampanye pemasaran. Perusahaan memanfaatkan orang lain yaitu para pemasar jaringan yang bergabung sebagai anggota, untuk berbicara tentang kelebihan, manfaat, serta kebaikan produk dan jasa yang dipasarkan (Legawa, 2005: 22). Rekomendasi itu diberikan agar konsumen merasa diperhatikan yang akhirnya diharapkan loyal terhadap perusahaan.
            Rekomendasi merupakan proses rasional dimana para analis memproduksi informasi dan argumen-argumen yang beralasan tentang solusi-solusi yang potensial (kuat) dari masalah-masalah publik (Anharudin, dalam www.nakertrans.go.id). Rekomendasi juga dilakukan antar sesama pelanggan. Pelanggan seringkali terlibat dalam penyampaian jasa dan kemudian menginformasikan kepada pelanggan potensial lain tentang pengalaman mereka (Payne, 1993: 201). Hal ini dapat kita lihat ketika seorang akan mencari dokter, hotel, rumah sakit, pengacara, konsultan manajemen, agen asuransi, arsitek dan sebagainya.
            Mereka atau pelanggan ini akan dengan senang hati memberikan usulan mengenai penyedia jasa dan memang beberapa bisnis khususnya dimantapkan untuk menawarkan jasa semacam itu. Disamping itu rekomendasi independen dari para pelanggan tentang produk, jasa, dan citra suatu perusahaan lebih dipercaya oleh para calon pembeli atau para calon anggota baru bila dibandingkan dengan rekomendasi yang dibuat sendiri oleh perusahaan yang bersangkutan (Legawa, 2005: 30). Payne (1993: 201) juga mengatakan hal yang serupa bahwa apabila orang menjadi penyampai jasa, rekomendasi personal seringkali merupakan sumber informasi yang disukai. Sebab, sifat manusia yang suka mencari informasi dan kemudian membaginya kepada orang lain. Disamping itu apabila orang menjadi penyampai jasa, rekomendasi personal seringkali merupakan sumber informasi yang disukai.
            Tahun 2006 minyak goreng Bimoli memperoleh peringkat pertama dalam Indonesian Customer Loyality Index(ICLI) pada kategori produk minyak goreng kemasan (branded), dengan mendapat nilai tertinggi loyalty index 86,5 dan referral (seberapa besar upaya konsumen merekomendasikan merek produk yang digunakan kepada orang lain) index 52,6. Dengan prestasi ini, pangsa pasar Bimoli mencapai 40,2% dengan mengacu pada data lembaga riset MARS 2005 (Rahayu dan Mohammad dalam SWA 06/XXII, 23 Maret - 5 April 2006).
            Dari fakta di atas dapat diketahui bahwa peran rekomendasi penting dan berpengaruh terhadap peningkatan loyalitas konsumen. Dunn (2003: 429) memberikan kriteria untuk membuat rekomendasi kebijakan. Kriteria tersebut terdiri dari enam tipe utama yaitu efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas, dan kelayakan.  
Efektivitas berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil yang diharapkan (Nugroho D, 2007: 24).  Suatu alternatif rekomendasi harus dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap pencapaian tujuan perusahaan. Oleh sebab itu rekomendasi harus dikelola secara efektif. Jika rekomendasi efektif maka kontribusinya akan semakin besar dan semakin efektif pula program atau kegiatan perusahaan, yang akhirnya tujuan akan tercapai (spending wisely) (Mahmudi, 2005: 92). Efektivitas dapat dilihat dari layanan suatu perusahaan yang dilakukan para pekerjanya (Simatupang dan Akib, 2007: 37), yaitu dalam hal kemampuan pekerja, kecepatan dalam memberikan pelayanan, dan kelengkapan peralatan yang digunakan.
Efisiensi terkait dengan hubungan antara output  berupa barang atau pelayanan yang dihasilkan dengan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut (Mahmudi, 2005: 91). Rekomendasi sebagai salah satu sumber daya perusahaan dapat dikatakan efisien apabila mempu menghasilkan output tertentu dengan input (berupa biaya standar yang dikeluarkan) serendah-rendahnya, atau dengan inputtertentu mampu menghasilkan output sebesar-besarnya (spending well) (Mahmudi, 2005: 91). Efisiensi dapat ditunjukkan melalui bagaimana kinerja perusahaan dalam memberikan pelayanannya (www.damandiri.or.id) dan (Laurensius, 2005: 45), yaitu mengenai biaya administrasi, waktu dalam proses penyelesaian pekerjaan dan kondisi hasil barang yang telah diperbaiki.
Kecukupan berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan yang menumbuhkan adanya masalah  (Nugroho D, 2007: 25). Rekomendasi yang dilakukan dalam suatu layanan harus sesuai dengan kebutuhan, nilai atau kesempatan, agar dapat memenuhi kriteria kecukupannya. Sehingga rekomendasi dapat memaksimalkan layanan yang diberikan dan meminimalkan tingkat kesalahan yang terjadi. Pemenuhan  kebutuhan konsumen akan kualitas jasa yang diberikan perusahaan (Mahmudi, 2005: 29), dapat dilihat melalui bagaimana kemudahan dalam penggunaan atau pengaksesan jasa, kebersihan dan kerapian jasa yang diberikan dan ketersediaan fasilitas pada saat dibutuhkan.                             
Perataan (equity) adalah suatu kriteria untuk menseleksi sejumlah alternatif untuk dijadikan rekomendasi yang didasarkan pada pertimbangan apakah alternatif yang direkomendasikan tersebut menghasilkan lebih banyak distribusi yang adil atau wajar terhadap resources yang ada dalam masyarakat (Mahmudi, 2005: 73). Rekomendasi bisa terdistribusi dengan adil bila diberikan tepat pada konsumen sesuai dengan kebutuhan dan peran sertanya bagi kemajuan perusahaan. Ketepatan dan kesesuaian dengan kebutuhan konsumen dapat diidentifiksi melalui kesesuaian (fit) layanan yang diberikan perusahaan (Mahmudi, 2005: 73-74), yaitu dalam hal kesesuaian layanan dengan kebutuhan konsumen dan kemampuan sumber daya (peralatan) dalam memberikan pelayanan.     
Responsivitas berkenaan dengan seberapa jauh suatu kebijakan melalui suatu rekomendasi dapat memuaskan kebutuhan, preferensi atau nilai-nilai kelompok masyarakat atau konsumen. Responsivitas sangat diperlukan dalam pelayanan suatu perusahaan karena merupakan bukti kemampuan perusahaan untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas  serta mengembangkan program pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat (Dilulio, dalam Dwiyanto dkk, 2006: 62). Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas  serta mengembangkan program pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat dapat dilihat dari sikap (suatu evaluasi kognitif / kesadaran, perasaan emosional / afektif, dan kecenderungan tindakan seseorang terhadap suatu obyek / konatif) perusahaan (Dwiyanto dkk, 2006: 63), dalam hal sikap perusahaan dalam merespon keluhan, penggunaan keluhan sebagai referensi bagi perbaikan penyelenggaraan pelayanan dan tindakan perusahaan untuk memberikan kepuasan pelayanan.
Kelayakan (appropriateness) adalah kriteria yang dipakai untuk menseleksi sejumlah alternatif untuk dijadikan rekomendasi dengan menilai apakah hasil dari alternatif yang direkomendasikan tersebut merupakan pilihan tujuan yang layak (Nugroho, 2007: 25). Kelayakan rekomendasi terkait dengan alternatif atau solusi yang diberikan apakah tepat untuk semua konsumen yang mempunyai kepentingan dan kebutuhan yang bermacam-macam. Kelayakan rekomendasi ini dapat dilihat dari hasil pelayanan perusahaan (Nugroho D, 2007: 27) dan (Mahmudi, 2005: 29), dalam hal estetika layanan dan keamanan dan kenyamanan pelayanan. 
            Rekomendasi dapat disampaikan salah satunya melalui tiap-tiap pertemuan atau kontak yang terjadi antara petugas dan konsumen atau dapat disebut juga sebagai moment of truth. Pada saat itu konsumen “benar-benar” harus mendapatkan kepuasan dari hasil layanan para people of the service company (Kartajaya, 2006: 149). Layanan yang diberikan itu merupakan satu-satunya jalan agar perusahaan dapat mempertahankan konsumennya yang setia (loyal), karena mereka merupakan aset yang berharga yang mendukung kesuksesan perusahaan (Barata, 2003: 22).           
            Loyalitas dapat didefinisikan berdasarkan perilaku membeli dari pelanggan yang loyal. Pelanggan yang loyal adalah orang yang melakukan pembelian berulang secara teratur, membeli antarlini produk, produk dan jasa, mereferensikan kepada orang lain, dan menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing (Griffin, 2003: 31). 
Diantara bentuk layanan untuk meningkatkan loyalitas pelanggan kendaraan bermotor adalah dengan memberikan kemudahan untuk menjangkau jaringan, melakukan perawatan (perbaikan), dan pelayanan purna jual (after sales). Untuk merealisasikan layanan seperti ini, Honda berupaya memberikan layanan terbaik dengan cara memperbanyak jaringan penjualan atau dealer  (H1), layanan bengkel (servis AHASS atau H2), purna jual dan spareparts (komponen atau H3). Kehadiran beragam layanan ini diharapkan akan semakin memudahkan Honda dalam melayani konsumennya, dan konsumen pun merasa nyaman dengan beragam fasilitas yang disediakan Honda tersebut.
            Satu hal yang sangat penting bagi konsumen dari berbagai macam layanan tersebut adalah layanan bengkel. Dulu, bengkel sangat identik dengan kotor, dipenuhi sisa oli bekas dan lain sebagainya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, saat ini bengkel-bengkel yang dimiliki Honda (AHASS) terus berbenah dan semakin baik. Tidak saja dari segi layanan perbaikan, tetapi juga tempat atau ruang tunggu pelanggan saat kendaraannya diservis atau diperbaiki. Sehingga AHASS memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan kini dikenal dengan sebutan bengkel hijau yang ramah lingkungan. Bengkel hijau atau ramah lingkungan adalah bengkel yang bebas dari pencemaran, baik limbah B3, polusi udara, kebisingan suara dan lain sebagainya.
            Jika suatu saat pemilik sepeda motor Honda ingin melakukan perawatan atau perbaikan (servis) ke bengkel Honda melalui jaringan AHASS, maka di bengkel bersangkutan tertulis Lima Hijau (5 Hijau), yaitu hijau lingkungan (lokasi), hijau hasil kerja, hijau pakaian (bersih), hijau ruangan kerja dan hijau ruang tunggu pelanggan. Konsep bengkel resmi Honda (AHASS) telah menerapkan konsep K3, yaitu kebersihan, kenyamanan dan keamanan. Bengkel-bengkel Honda (AHASS) dibuat melalui konsep AMDAL (Analisa Mutu dan Pengendalian Lingkungan) dan bebas dari pencemaran lingkungan (oil trap). Oli bekas tidak langsung dibuang ke selokan atau lainnya, tetapi dibuang ke penampungan khusus. Sehingga oli tersebut tidak tercecer kemana-mana. Sekitar 80 persen bengkel Honda (AHASS) sudah memiliki pembuangan limbah yang baik (Syahroni dalam www.kaltengpos.com).
AHASS (Authorized Honda Service Station), adalah salah satu jaringan pemeliharaan yang merupakan bagian dari AHM yang salah satu tugasnya adalah sebagai layanan purna jual, yang melakukan servis atas setiap keluhan konsumen yang menggunakan sepeda motor Honda. Dengan menservis sepeda motor di AHASS konsumen akan mendapat pelayanan terbaik sesuai standar dari Honda.
Astra Honda Motor (AHM) juga menambah satu departemen untuk menangani masalah kepuasaan pelanggan, yaitu departemen HC3 (Honda Customer Care Center) yang juga menyediakan layanan telepon bebas pulsa (0800 11 46632).
Selain itu setiap bengkel resmi Honda (AHASS) ditunjang oleh para mekanik yang merupakan tenaga terampil dan terdidik yang telah menjalani pelatihan mekanik tingkat I, II dan III, maupun manajemen serta menggunakan peralatan, perlengkapan teknis dan administrasi standar Astra Honda Motor, dengan demikian konsumen akan mendapat pendidikan (customer education) bagaimana cara merawat sepeda motor Honda secara berkala yang baik dan benar agar sepeda motor Honda tetap awet, nyaman dan aman bagi pengendara (www.cdn.co.id).
Akan tetapi, meskipun AHASS memberikan pelayanan yang profesional seperti itu, tidak semua konsumen mengikuti isi rekomendasi itu, sehingga mereka tidak selalu menservis sepeda motornya pada AHASS. Mereka hanya menservis sepeda motornya selama garansinya masih berlaku. Selanjutnya, setelah itu mereka menservis sepeda motornya pada bengkel umum atau tidak resmi yang tersebar dimana-mana, bahkan ada yang di perbaiki sendiri, jika kerusakan sepeda motornya tidak terlalu parah.
            Selain agar para konsumen selalu memperbaiki atau menservis sepeda motornya pada bengkel resmi tersebut, meskipun garansinya sudah habis, rekomendasi tersebut berfungsi juga sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan loyalitas konsumen pada Honda. Sebab  loyalitas dapat dilihat dari aktivitas konsumen dalam melakukan pemakaian atau pembelian berulang secara teratur terhadap produk dan jasa, serta  menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing (Griffin, 2003: 31).  Jika loyalitas konsumen itu meningkat maka profit yang didapat juga semakin bertambah besar.
Berdasarkan uraian diatas dan melihat betapa pentingnya rekomendasi yang baik dalam rangka meningkatkan loyalitas konsumen. Maka penelitian ini mengambil judul ”Analisis Pengaruh Rekomendasi Terhadap Loyalitas Konsumen (Studi Pada AHASS 0003 Malang Honda Center PT. Mitra Pinasthika Mustika Malang)”.  
Rumusan Masalah

            Atas dasar rumusan masalah tersebut, maka dapat diidentifikasikan masalahnya sebagai berikut:
Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari kriteria rekomendasi yang terdiri dari efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas, dan kelayakan terhadap loyalitas konsumen.

Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial dari kriteria rekomendasi yang terdiri dari efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas, dan kelayakan terhadap loyalitas konsumen.

Selengkapnya terkati CONTOH SKRIPSI MANAJEMEN PEMASARAN JUDUL : ANALISIS PENGARUH REKOMENDASI TERHADAP  LOYALITAS KONSUMEN (Studi pada AHASS 0003 Malang Honda Center  PT. Mitra Pinasthika Mustika Malang) Dari Mulai BAB I hingga BAB 5 termasuk daftar pustaka, silahkan cek di sini
 
Atas